KlikDokter dan BKKBN Luncurkan Aplikasi KlikKB

Jum’at, 21 Agustus 2020 • 22: 40

KlikDokter dan BKKBN

Sebagai salah satu upaya membantu pemerintah untuk mengendalikan meledaknya jumlah penduduk terkait pandemi COVID-19, KlikDokter bersama dengan Badan Kependudukan dan Suku Berencana (BKKBN) mengembangkan dan mengeluarkan sebuah aplikasi yang dinamakan “KLIKKB”.

Kerjasama KlikDokter dan BKKBN ini dilakukan jadi respon cepat terhadap perkembangan terbaru yang terjadi di Indonesia. Adanya penurunan cukup drastis dalam penggunaan kontrasepsi selama pandemi COVID-19 membuahkan peningkatan jumlah kehamilan tidak direncanakan sebesar 17. 5 persen dalam skala nasional.  

Dr (H. C). dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) sebagai Kepala BKKBN menegaskan, “Peningkatan angka kehamilan sebesar 17. 5% bukan angka yang kecil. Angka ini berarti untuk setiap 100 kehamilan, ada 17 kehamilan yang tak direncanakan. Hal ini sangat agak-agak terjadi karena kurangnya akses Bagian Usia Subur terhadap pelayanan kontrasepsi. Berbagai penyebab seperti kekhawatiran peserta KB untuk menggunakan fasilitas kesehatan tubuh, adanya provider yang tidak menggelar layanan, ataupun terhambatnya menuju wadah pelayanan karena Pembatasan Sosial Berskala Besar menjadi faktor-faktor yang memproduksi Pasangan Usia Subur tidak mempunyai akses untuk mendapatkan kontrasepsi. ”

Padahal, pelayanan kontrasepsi harus terus dilakukan untuk menutup tujuan perencanaan keluarga yaitu menunda kehamilan, menjaga jarak antar kelahiran, dan mengakhiri kesuburan. Adanya kebutuhan digitalisasi terhadap pelayanan kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur di era pandemi COVID-19 ini ditanggapi secara baik oleh KlikDokter dan BKKBN dengan meluncurkan aplikasi “KLIKKB”.

Bonny Anom selaku Deputy CEO KlikDokter menegaskan, “KlikDokter sebagai mitra kesehatan pemerintah ingin selalu mendukung penuh kebutuhan koneksi informasi dan edukasi kesehatan untuk masyarakat Indonesia. Terlebih di kurun pandemi ini, ketika pelayanan kesehatan membutuhkan digitalisasi secara cepat, kami ingin berperan serta aktif. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan hendak mendekatkan pelayanan KB dan Kesehatan tubuh Reproduksi kepada masyarakat Indonesia. Penggunaan teknologi saat ini menjadi kunci penting terhadap penyesuaian perubahan zaman yang serba cepat dan hidup, termasuk dalam pelayanan kontrasepsi. Harapannya, dengan adanya aplikasi ini, bahan akhir membentuk keluarga aman, sejuk dan mandiri dapat bisa tercapai melalui perencanaan keluarga. ”

Aplikasi “KLIKKB”, akan menghubungkan secara langsung antara akseptor KB dengan bidan dan memungkinkan peserta mendapatkan informasi secara interaktif atau konseling dalam aplikasi ini.

“Dalam aplikasi ini tersedia layanan live chat dengan provider, informasi tempat pelayanan KB, alarm pengingat baik bagi provider maupun akseptor untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi ulangan. Sebelum mendapatkan pelayanan, peserta KB dapat membuat janji terlebih dahulu sehingga meminimalisir waktu tunggu. Upaya ini juga diharapkan membantu akseptor dalam mendapatkan alarm pengingat saat meminum pil KB setiap harinya, ” ungkap Mia Argianti, Head of B2B KlikDokter.

Hal ini dilakukan buat menghindari Drop Out atau pudar pakai kontrasepsi yang persentasenya masih cukup tinggi khususnya pada kontrasepsi jangka pendek. “Selama 3 bulan terakhir saja, angkanya mencapai 10% dari 36 juta pasangan piawai subur yang putus kontrasepsi, ” jelas Dr (H. C). dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K).      

“Aplikasi ini juga diharapkan dapat membantu Program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dalam hal mengetahui kebutuhan Pasangan Usia Subur terhadap jenis kontrasepsi sehingga dapat menjadi masukan bagi kebijakan program. Ketersediaan alat & obat kontrasepsi dapat dipantau sehingga mencegah terjadinya stock out di fasilitas pelayanan kesehatan., ” ungkap Mia Argianti, Head of B2B KlikDokter.

Harapan pada masa depan oleh KlikDokter & BKKBN adalah untuk dapat menggelar “KLIKKB” secara kontinu dan bertahap melalui fase-fase yang telah ditentukan dan dengan penyesuaian terhadap jumlah tenaga kesehatan dan kapasitas serasi fase tersebut.  

“Saat ini tenaga kesehatan tubuh yang dilibatkan sebagai pemberi servis adalah bidan sebanyak 2. 000 yang tersebar di seluruh Indonesia dan bidan konselor yang akan bertugas memberikan konsultasi melalui “KLIKKB”. Kemudian sebanyak 2000 bidan medium dipersiapkan untuk wilayah Jawa dan Bali. Sosialisasi yang dilakukan pula secara bertahap, tahap pertama disosialisasikan di 7 provinsi, tahap ke-2 12 provinsi dan tahap ke-3 15 provinsi, ” tutup Dr (H. C). dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K).