Kalender Inkubasi Sispreneur Dukung Perempuan Pelaku Usaha Mikro di Masa Pandemi

Rabu, 12 Agustus 2020 • 15: 49

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Budak (PPPA), Bintang Puspayoga hari tersebut meresmikan peluncuran Kelas Inkubasi Sispreneur yang ditujukan bagi kalangan rani pelaku usaha mikro. Program kolaborasi Kemen PPPA dengan XL Axiata ini bertujuan menghubungkan perempuan pelaku usaha mikro hingga akhir 2020 dengan teknologi digital.

200 perempuan pelaku usaha mikro binaan Kemen PPPA menjadi target dalam program Sispreneur ini. Kemen PPPA juga mendapatkan dukungan dibanding beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dengan bergerak di bidang pemberdayaan hawa, yaitu Asosiasi Pendamping Perempuan Daya Kecil (ASPPUK), Kapal Perempuan, & Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Puak (PEKKA).

“Usaha mikro merupakan jenis usaha dengan dapat bertahan dan mampu menyelamatkan ekonomi kita pada krisis moneter pada 1997-1998, sehingga saya yakin, UMKM di Indonesia berpotensi untuk kembali menyelamatkan pemulihan ekonomi akibat pandemi yang melanda saat tersebut dengan memanfaatkan akses teknologi, go-online, dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Melalui adaptasi dengan teknologi dan pemanfaatan e-commerce, perempuan aktivis pelaku usaha mikro berpotensi memiliki pasar dan terus memperbesar pemberian ekonomi bagi bangsa. Melalui kesempatan ini, saya perlu mengingatkan kalau perempuan melek digital adalah sebuah keharusan, ” ujar Menteri Bintang pada Webinar Strategi dan Peluang Bagi Perempuan Pelaku Usaha Mikro Go-Digital sekaligus Peluncuran Kelas Inkubasi Sispreneur.

Menteri Kartika mengatakan tidak hanya dari jurusan populasinya, potensi dan peran rani dalam sektor ekonomi sangatlah tumbuh. Misalnya, 99, 99 persen daya di Indonesia adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Kemenkop & UKM, 2017-2018). Selain itu, bersandarkan survei dari Bank Dunia (2016), lebih dari 50 persen cara mikro dan kecil dimiliki oleh perempuan.

“Peserta dengan terpilih mengikuti program ini bakal mendapatkan pembinaan secara gratis, cara secara konseptual, maupun praktek untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan konkret. Selain itu, mereka juga mendapatkan peluang untuk memperbesar jaringan pemasaran produk, serta memperluas cakupan pasar dan meningkatkan mutu beserta kualitas produknya sehingga tidak menyumbat kemungkinan untuk menjual produknya, jalan lintas provinsi maupun hingga keluar negeri. Ini bukanlah mimpi. Dalam era seperti ini peluang betul terbuka luas, ” tambah Menteri Bintang.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini yang turut mendampingi Menteri Bintang saat peluncuran secara virtual mengatakan melalui program tersebut, para perempuan pelaku usaha mikro akan mendapatkan bimbingan untuk memajukan bisnis kecil dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Perempuan dan UMKM merupakan pihak-pihak yang memutar terdampak secara ekonomi dan baik selama masa pandemi Covid-19. Sebab itu, program kelas inkubasi tersebut menjadi sangat relevan untuk awak selenggarakan saat ini agar dapat membantu di dua sisi sekali lalu, yaitu sisi perempuan sebagai dalang ekonomi keluarga dan UMKM dengan dikelolanya agar bisa menopang ekonomi keluarga dan menggerakkan ekonomi pada lingkungan sekitarnya, ” tutur Dian Siswarini.

Dian menambahkan, teknologi digital menawarkan kesempatan pada siapa saja untuk mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki. Bagi para-para perempuan pelaku usaha mikro, teknologi digital akan memungkinkan mereka buat menembus pasar yang lebih umum, yang hampir mustahil bisa dijangkau jika tidak online. Teknologi digital sekaligus akan mempermudah mereka mengabulkan promosi produk/jasa secara lebih massif melalui kolaborasi dengan para penyedia platform e-commerce/marketplace.

Status Inkubasi akan dilaksanakan secara online, menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Tersedia tiga hal pokok mendasar dengan diajarkan. Pertama, product ready, yakni membangun pola pikir seorang hawa pelaku wirausaha (womenpreneur) menyangkut perluasan usaha secara nyata, baik sebab sisi manajemen keuangan, hingga pemilihan produk. Kedua, market ready, yakni mendidik para perempuan pelaku usaha mikro untuk bisa memastikan nilai produk sesuai dengan target market yang disasar. Ketiga, digital and marketplace ready, mengajarkan para hawa pelaku usaha mikro cara memakai channel promosi agar bisa lebih menjual seperti di platform media sosial, serta didukung juga sebab Bukalapak sebagai marketplace yang berkomitmen untuk mendukung kelangsungan bisnis UMKM tanah air, para peserta akan dibimbing dalam berjualan melalui marketplace, dan produk-produk perempuan pelaku usaha mikro yang telah mengikuti program Sispreneur ini akan dipromosikan dan mendapatkan fitur push promotion.  

Para peserta Kelas Inkubasi berdomisili tersebar di 4 (empat) provinsi, yaitu Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Mereka juga merupakan pelaku usaha mikro yang selama tersebut memang belum online. Mereka mempunyai produk atau jasa antara asing makanan dan kerajinan tangan. Berarakan juga para peserta mendapatkan menjalankan pack/sim card XL Biz secara gratis dengan benefit Paket Bukti 5 GB, Unlimited Call & sms ke sesama XL, 30 Menit + 30 Sms ke operator lain, Unlimited WA, Line, free akses Facebook & Instagram sebesar 1 GB, dan Pulsa sebesar Rp 5. 000.

Diluncurkan pertama kali dalam 23 April 2015, Sisternet saat ini memiliki lebih dari 26 seperseribu anggota. Untuk terus meningkatkan ukuran manfaat bagi kaum perempuan Nusantara, Sisternet menjalin kerja sama secara berbagai komunitas dan organisasi hawa, juga dengan banyak pegiat baik di berbagai daerah. Selain tersebut, Sisternet juga aktif bekerja sepadan dengan sejumlah instansi pemerintah, selain dengan Kemen PPPA juga secara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan, Kementerian Desa, Pembangunan Wilayah Tertinggal dan Transmigrasi, serta Kementerian Kesehatan.